HOMESCHOOLER Mom

Foto saya
a mom of homeschool twinnies (boy and girl), an ex architect, a lecturer, a crafter, and a children book's author and illustrator. loves drawing, crafting, illustrating, making pretty things..

Hi there...

Thanks so much for taking time out of your day to stop by my little space! i am happy to share my daily activities (homeschooling, green living, writing, ilustrating & crafting) and hope you enjoy it...

-Dini-

dkwardhani@yahoo.com



Kamis, 09 Oktober 2014

Toko Merah : Kisah Si Bangunan Kuno

Tiba-tiba saya ingin sekali menulis tentang Toko Merah, yang merupakan salah satu judul pada Kumpulan cerita Kisah Kota Kita. 



Mungkin banyak yang baru tahu jika judul Toko Merah terinspirasi dari nama sebuah toko alat tulis di Jogjakarta milik sahabat saat kuliah. Sangat spesial karena ini merupakan ilustrasi cat air pertama saya yang diterbitkan dalam bentuk buku anak. Senang sekali saat menulis sekaligus mengilustrasikannya. Buat saya cerita yang satu ini sangat istimewa, karena bercerita tentang bangunan kuno di sebuah kawasan Pecinan. 

Saya selalu menikmati keindahan bangunan lama/kolonial maupun bangunan tua bersejarah. Bagi saya, bangunan-bangunan itu memiliki estetika yang tak dimiliki dan juga tak bisa digantikan oleh bangunan masa kini. Namun sayang, nasib bangunan tua di Indonesia tidaklah semanis gula. Terbengkalai, terlupakan, ditinggalkan, bahkan dirobohkan itulah riwayat mereka kini. Selain bicara estetika, tentu juga kita akan bicara mengenai konstruksi dan teknologi. Bagaimana bangunan tua bisa memiliki kenyamanan termal yang baik hingga disebut bangunan indies nan tropis. Sayang seribu sayang, jika bangunan-bangunan itu berakhir hanya dalam kenangan warga kotanya.




Saat saya membaca ulasan buku The Little House, saya merasa tersentil. Mengapa di Indonesia tidak ada buku yang bisa membuat orang (terutamanya anak-anak) berempati terhadap nasib bangunan tua. Buku adalah media yang ampuh untuk menyentuh hati. Saya membayangkan bisa menulis cerita seperti ini. Selain ceritanya yang mengharukan, ilustrasi The Little House sangat serasi dan harmonis dengan ceritanya, klop sudah!

http://blog.preservationnation.org/


Akhirnya saya bulatkan tekad saya untuk menulis buku anak dengan tema besar mengenai tata kota. Walaupun tema tersebut bisa dikatakan tema berat atau idealis untuk anak-anak, tapi saya tetap yakin bahwa tema seberat apapun bisa dikemas menjadi ringan dan menyenangkan. Toko Merah merupakan salah satu judul awal yang saya tulis selain Taman Cahaya. 




Saya menuliskan naskah Toko Merah dan Taman Cahaya pada saat mengikut kelas online Picture Book Writing. kemudian muncul judul Titian Persahabatan, Stasiun Pelangi dan Dermaga Perak yang akhrinya berganti judul menjadi Festival Air. Karena tidak cukup hanya berbekal 5 cerita, bersama mb Watiek Ideo, saya mulai mematangkan ide ini. Berbagai konsep kami coba mulai komik, cergam akhirnya matang dengan kumpulan cerita. Dan selanjutnya muncul lah 10 cerita yang masing-masing mewakili tiap elemen perkotaan. Tambahan judul baru adalah Pasar Pagi, poster Heboh, Kantor Jingga, Pawai Sampah dan Jalur Populer.

No
Sub Judul
Elemen Kota yang ingin diceritakan
1
Taman Cahaya

Pohon dan Taman yang terlantar
2
Titian Persahabatan

Elemen pedestrian way/trotoar
3
Toko Merah

Bangunan kuno/cagar budaya kota 
4
Festival Air

Banjir dan biopori
5
Pasar Pagi

Revitalisasi pasar radisional
6
Poster Heboh

Penertiban reklame
7
Pawai Sampah
Daur ulang sampah

8
Kantor Jingga

Kantor pos dan kawasan pusat kota
9
Stasiun Warna

Sarana transportasi masal dan perawatan utilitas kota
10
Jalur Populer
Kemacetan akibat tidak tertib


Apa sih inti dari cerita Toko Merah? sebetulnya Kisah si Toko Merah merupakan kisah tentang adaptive use dalam konteks pelestarian bangunan bersejarah. Berikut adalah sinopsisnya :

Di sebuah kota kecil, dibangunlah sebuah toko kelontong yang terletak di sudut tikungan. Ia menjual berbagai macam barang juga makanan. Pada kawasan permukiman itu (neighbourhood), ia tampak sangat megah dengan catnya yang berwarna merah. Si Toko pun merasa sedikit sombong karena ia paling menonjol diantara bangunan yang lain. Tahun berganti tahun pemiliknya tak mampu lagi merawatnya, sang pemilik pindah kota untuk tinggal bersama anaknya. Si Toko Merah pun dijual. Lama ia merasa terlantar, kosong. Ia merindukan sapaan si pemilik toko pada para pelanggannya. Suatu hari seorang pemuda berhenti di muka Toko Merah. Lama ia berdiri di sana. Saat melihat Toko Merah ia teringat kembali betapa lezat kue bolu buatan nyonya pemilik Toko Merah.

Sejak naskah itu jadi, saya menyimpan keinginan untuk bisa mengilustrasikannya sendiri. Saya bukan ilustrator yang handal, bahkan ini adalah pertama kali saya mengilustrasikan cerita anak dengan media cat air. Alhamdulillah, selesai juga dan sesuai harapan saya. Meskipun saya masih harus banyak belajar lagi teknik-teknik ilustrasi, ya karena saya juga tidak kuliah di jurusan komunikasi visual :D tapi lumayan lah.




Selain Toko Merah, cerita favorit saya adalah Taman Cahaya. Taman Cahaya akhirnya berhasil diilustrasikan sangat indah oleh Dewi Citra, saya kagum dengan caranya menuangkan cerita itu pada gambar-gambarnya yang luar biasa, lembar demi lembarnya membuat hampir semua pembaca mengagumi cerita itu. Ada efek dramatis, anggun dan melankolis dalam ilustrasi Taman Cahaya. Luar biasa!




Toko Merah, Taman Cahaya dan cerita lain dalam Kisah Kota Kita hanyalah sebagian kecil dari upaya seorang warga kota mengubah keprihatinan menjadi kepedulian. Kepedulian yang saya harapkan tumbuh di hati setiap pembaca cilik yang telah membaca Kisah Kota Kita. Paling tidak saya, dan Mb Watiek tidak ingin berpangku tangan saja. Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka berusaha untuk mengubahnya sendiri. 

Tulisan ini akhirnya saya tutup dengan mengutip endorsment dari Ridwan Kamil "Kota Mencerminkan Siapa Diri Kita".


Salam




Jumat, 26 September 2014

Testimoni Pembaca Kisah Kota Kita

Hal yang juga paling saya tunggu sebagai penulis adalah, respon dari para orang tua yang telah membeli dan membaca Buku Kisah Kota Kita. Berikut ini adalah beberapa testimoni yang berhasil saya rangkum, yang beberapa di antaranya membuat saya speechless.

Aliva Sholihat - 22 September 2014


[Tentang Buku Kisah Kota Kita] 




Anak-anak di rumah lagi keranjingan buku baru. Baru beberapa hari umurnya. Tapi sudah lecek. Bagus donk, tanda sering dibaca kan?  *padahal emaknya aja ga apik* Arvan minta diulang-ulang cerita favoritnya, Taman Cahaya dan Pasar Pagi. Aira sudah berhasil merobek satu halaman, ikut-ikutan heboh kayak yang udah ngerti. 

Saya sungguh ingin memeluk para penulis dan ilustrator buku ini. Menurut saya bukunya bagus sekaliii. Bisa menghadirkan pelajaran penting dalam bentuk cerita anak yang ringan dengan gambar-gambar indah. Suka suka suka pake banget banget. 

Mungkin saya agak lebay, tapi sungguh tema yang ditampilkan dalam buku ini adalah sesuatu yang sudah sejak lama saya cari. Saya ingin buku yang bisa bercerita pada anak-anak, seperti apa seharusnya kota kita itu. (Versi kota kita di Indonesia ya. Karena agak klise ya kalau bukunya bercerita mengenai kota-kota 'utopis' di skandinavia misalnya?) Dan saya sendiri, sebagai orang tua, sebenarnya memang belum benar2 paham seperti apa seharusnya kota yang bermartabat itu. Sesuatu yang mungkin luput diajarkan di "sekolah" pada generasi kita dulu? 

Bab Taman Cahaya misalnya. Cerita tentang taman yang sempat sepi ditinggalkan anak-anak, namun ramai kembali sejak kedatangan kunang-kunang. Saya rasa bukan kebetulan kalau itu adalah cerita pertama yang diangkat. Penulisnya tahu benar bahwa taman bermain adalah jantung kota buat anak-anak. Dan bukannya anak-anak adalah "spesies percontohan" ? Kota yang ramah anak, yang bisa membuat anak bahagia, pasti jadi kota yang ramah buat semua, yang membuat semua bahagia. Ada pula Titian Persahabatan. Cerita tentang jembatan kayu khusus pejalan kaki yang membuat anak-anak yang bertemu jadi bersahabat. Untuk bisa bahagia, sebenarnya sederhana saja, manusia perlu bergerak bebas seperti burung. Berjalan. Berlari. Bersepeda. Bersepatu roda. Berpapan luncur. Untuk bisa bahagia, sebenarnya sederhana saja, manusia perlu bersosialisasi, berinteraksi satu sama lain. Maka ruang publik pun menjadi amat penting. Tempat kehidupan dan hati para warga kota beririsan satu sama
lain. Taman, alun-alun, pedestrian, dsb. Ya, buku berilustrasi indah ini mampu membantu seorang ibu untuk menyampaikan cerita itu pada anak-anaknya. 

Lalu ada cerita tentang Jalur Populer. Cerita yang tampak sederhana tetapi memuat pesan besar. Pelajaran tentang kendaraan umum. Kendaraan umum adalah yang menjadikan kota mampu menawarkan kesetaraan bagi warganya. Yang kaya yang miskin, semua sama2 naik bis umum, naik kereta komuter. Kendaraan pribadi bikin jalanan penuh, macet. Kendaraan pribadi bikin orang gak sempat ngobrol, paling hanya menanggukkan kepala dari balik jendela. Kendaraan pribadi bikin orang gak sehat dan gak bahagia. Sudah kejebak macet, kebelet pipis, gak ada teman ngobrol pula, paling cuma dengar suara radio. Kendaraan umum buat orang miskin, kendaraan pribadi buat orang kaya, haduh kok terbelakang. Jalur khusus busway adalah pelajaran tentang demokrasi. Sebuah bis yang mampu memuat 50 orang penumpang, maka dia pun berhak terhadap 50 bagian ruas jalan. Si bis layak mendapat jalur khusus yang tak boleh dilewati mobil pribadi. Dan mobil pribadi harus ikhlas, tidak boleh sewot. Katanya
negara demokrasi? Begitu juga dengan jalur pejalan kaki, kebanyakkan dari warga kita tidak punya mobil pribadi kan? Seharusnya membangun trotoar untuk pejalan kaki itu tidak kalah penting dari membangun jalan tol yang besar-besar itu kan? Trotoar menawarkan kesetaraan buat yang punya mobil pribadi dan buat yang cuma mimpi punya mobil pribadi. Ya ampun, saya sih kaget buku anak warna-warni begini bisa bercerita soal demokrasi dan kesetaraan. 

Belum lagi cerita-cerita lain yang berwawasan lingkungan dan konservasi. Festival Air, Pawai Sampah, Toko Merah, Stasiun Pelangi. Buku ini bikin saya sadar. Sungguh saya harus banyak belajar lagi. Bercerita tentang kota pada anak tak sesimpel itu. Ada banyak dongeng penting dibalik cerita sederhana tentang taman, stasiun, jembatan, pasar, kantor pos, dsb. Sekali lagi, saya mau kasih peluk jauh buat ibu-ibu penulis dan ilustrator buku ini. Anda semua jenius! Terima kasih telah menuangkan karya ini ke tengah kami semua, para ibu muda yang sedang belajar untuk "bercerita" pada anak-anaknya  

Dan buat ibu-ibu lain yang belum punya, saya rekomendasikan untuk punya buku ini juga. Mungkin tidak semua dari kita bisa jadi wali kota, aktivis lingkungan, relawan kota, dan semacamnya. Apalagi buat ibu-ibu kayak saya, males kali saya panas2an ngecat taman kota  Tapi paling tidak kita melakukan sesuatu; "We owe it to our children, to teach them about what kind of city they deserve to live in.." — bersama 'Dini' Dian Kusuma Wardhani dan Penerbit Bip Gramedia.



Fie Okta -24 September 2014


Pas buka buku ini rasanya wahhh bgt..entah mengapa merasa ilustrasinya aja udah bgs bgt untuk buku anak..even anak2 yang belum bisa baca udah serius baca gambarnya yang mungkin sudah bercerita sendiri walopun bundanya blm bacain..hehe.. ceritanya kota kita bangetttt.. keren mbak ''Dini' Dian Kusuma Wardhani.. akupadamu dehh  


Nungki Martika - 22 September 2014 (tinggal di Jepang)




Buku ini khusus pesen suami pas pulang ke indonesia. Udah naksir sejak penulisnya,mb'Dini' Dian Kusuma Wardhani sama mb Watiek Ideo, woro2 di fb nya. Menurut saya isinya berbobot sekali, dikemas dalam cerita anak yang fun, ilustrasi yang keren, jadi menarik buat anak. Saya aja sukaaaaa ... Dan buku ini rekomendasi Bp. Ir. H. Joko Widodo lho 


Anarika Suprapto - 23 September pukul 17:21 • 




Buku Kisah Kota Kita yang dipesan langsung dari Ibu Penulis free wayang lohh..., cerita bersama si kecil jadi lebih seru dan menarik 

Ceritanya dilengkapi dgn ilustrasi2 yg memanjakan mata si kecil juga mama papa nya 
Mengajarkan si kecil tentang kota kita beserta problema di dalamnya secara ringan sekaligus membangkitkan nostalgia masa kecil si mama papa ;( jadi terharu...
Hal kecil yang telah Yelle lakukan bersama mama papa thd kota yaitu buang sampah pada tempatnya, tertib lalu lintas, antri dengan sabar...
‪#‎Gerakancintaikotakita‬

Prillia Verawati menambahkan 2 foto baru.

23 September pukul 8:36 • 

Terima Kasih bukunya mbak Watiek Ideo dn ''Dini' Dian Kusuma Wardhani. Raffa suka banget, terutama wayang kotanya. Dia paling suka cerita Jalur Populer dan Stasiun Pelangi. Itu pasti karena keduanya tentang transportasi, hal yang sangat disukai raffa. Wayangnya terus dimainin sampe malem, meskipun dengan cerita full improvisation....hehehe


Lila Imelda Sari - 23 September · 





Namaku Aksan. Umur 3 Tahun. Sudah sekolah kelas Kelompok Bermain B di Playgroup Komimo, Yogyakarta.

Waktu ke toko buku Gramedia, ibu membelikan buku Kisah Kota Kita. Bukunya besar, dengan gambar yang bagus dan berwarna menarik. Cerita di dalamnya banyak. Semuanya bercerita tentang kota. Yang paling aku suka cerita "Stasiun Pelangi". Karena aku suka sekali dengan apapun yang berbau kereta api....

Wayang yang aku pilih waktu mau foto ya.. si kereta hitam dan Stasiun Waru yang sudah jadi Stasiun Pelangi. Oya, di rumah berdua dengan Bapak, aku membuat stasiun Waru dari sendok kayu yang biasa dipakai untuk makan es krim. Itu dia stasiun buatan aku dan bapak.... liat kan?


Untuk menjaga kota, aku sudah melakukannya dengan tidak membuang sampah sembarangan. Setiap kali pergi dan sulit menemukan tempat sampah, biasanya aku menyimpan sampahnya di dalam tasku atau titip di tas Ibu. "Ibu, jangan buang sampah sembarangan ya.." begitu selalu aku bilang ke ibu. 


Nah, foto yang kanan adalah kantong depan tas sekolahku. Tiap habis minum susu kotak, plastik bungkusan sedotannya dan juga karton kotaknya selalu aku simpan dulu. Sampai ketemu tempat sampah, baru deh aku buang..



Bukunya udah rada lecek ya ujungnya. Tandanya kan bukunya selalu dibaca.. 



24 Oktober 2014


Ummiiiii apa ini?

Ini wayang nak, buat temen baca bukunya..

Kereenn ada pohon.. bis..
Wow keretaaa..!!





Itulah ekspresi kaget nabila affan waktu saya tunjukkan wayang dan buku kota kita.

Saya dan suami Febri An ikut antusias bacain kota kita untuk anak2.
Saya mendongeng dengan suara yang dibuat2.
Suami berhasil bikin anak2 teriak senang saat menirukan kiara pohon yang tertiup angin.

Tapiii, ada 1 hal yang membuat saya sedih. Anak2 belum bisa ngebayangin kunang2 itu kayak apa 
Dimana saya bisa menemukan kunang2 lagi yaa?

Dan stttt, 2 hari lalu saya melantik 2 direktur. Diberi mahkota dan stempel lucu di tangan.
Nabila sebagai direktur beres beres.
Affan sebagai direktur buang sampah.

Sekarang tugas membereskan rumah mulai terasa ringan.
"ayok direktur beres beres dan direktur buang sampah, kita kerjakan" 

Makasiii buat mbak 'Dini' Dian Kusuma Wardhani dan mbak Watiek Ideo untuk buku kota kita yang kereeennn banget!

Yuk ajarkan anak kita untuk mencintai kotanya.
#Gerakancintaikotakita



Aaah... seneng banget baca semua testimoni di atas.

Terima kasih untuk para ibu, mama, bunda, mami, ummi semua ^^

Semoga bermanfaat ya



Buku ini istimewa sekaliiiii, awalnya sempat under estimate dgn judulnya "Kota Kita", tapi krn salah satu ilustratornya adalah teman saya yg sholehah, cerdas & murah hati rasanya tdk ada alasan untuk menolak tawaran membeli buku ini, dan kemarin sore beberapa menit menjelang Adzan Magrib bukunya diantar langsung oleh Mba Dian Setiany sang ilustrator di cerita "Kantor Jingga"...seperti biasa Super Dipo tdk sabaran ingin dibacakan buku barunya, jadilah buku ini dibacakan sambil menyusui Abhyu dan ternyata...WOOOOW...walaupun ide ceritanya sederhana tapi dgn tata bahasanya mudah dipahami anak2 (saya membacakannya ala2 story telling hehehehe) ditambah lagi ilustrasinya yg KEREN BANGET...buku ini jadi ISTIMEWA SEKALI dijamin anak2 suka bahkan saya sendiri senang membolak2 balik halaman hanya untuk melihat ilustrasinya yg keren (berasa jadi anak2 lagi) ☆☆...warna warni ceria tapi lembut...(mirip ilustrasi buku2 dari luar hehehehe) pokoknya TOP BGT...hampir lupa ada bonus wayangnya lhooo...ayo buruuaan beli di toko buku terdekat...buku ini direkomendasikan oleh Ir. H. Joko Widodo (Presiden RI terpilih) ...ahhhhh rindu lihat kunang2...

Sabtu, 20 September 2014

Pembaca Cilik Kisah Kota Kita

Hal yang paling menyenangkan bagi saya, menjadi seorang penulis (paruh waktu) adalah saat buku yang kita tulis menjadi favorit anak-anak. Saat melihat mereka tekun menyimak dan membacanya, juga saat buku kita menjadi buku favorit mereka menjelang tidur. Ini menandakan buku tersebut sangat berkesan bagi mereka.

Apalagi jika ceritanya sangat mengena bagi anak-anak, berkesan mendalam, sehingga mereka bisa menceritakan kembali jalinan cerita yang ada di buku kota kita dengan bahasa mereka sendiri. Kadang jadi terharu, melihat buku-buku itu sampai ke tangan-tangan mungil yang membuak lembaran demi lembaran, memandang dengan antusias setiap ilustrasi yang disuguhkan. Bahkan beberapa dari pembaca ini usinya masih belum menginjak sekolah dasar, namun menurut para mama dan bundanya, mereka sudah punya cerita favorit pilihan mereka sendiri. Wow, MasyaAllah!

Semoga Kisah Kota Kita tidah hanya menjadi buku favorit mereka, namun kisah-kisah di dalamnya bisa menjadi bekal menumbuhkan kepedulian mereka terhadap kota.

Arvan (3th) dan Aira (1th) putra putri Alivina

Ocha (11th)


Keni dan Adit

Putri Mb Ely Nur

Putri mb Arif

Mikaila (4th) Putri Mb Yuni


Hanif (6th) putra Yustika Kurniati


Hanif (7th) putra Yustika Kurniati


Aksan (3th) putra Mb Lila Imelda Sari


Abimanyu (3th) putra Yustika Kurniati

Farizqi (5th) dan Kaede (3th) putra Mb Sari

Atha dan Athir (3th) putra kembar Fie Okta

Yelle (3th)  Putri Mb Anarika

Putri Mb Ely Nur

Andra dan Nada putra putri Mb Novi

adit (6th)

Charissa (4th) putri Mb Rika

Reine (6 bulan) putri Adjie Negara

Fionna (6,5 th) putri Sri Risnawati

Anin putri  Niken Atmi

Nasya putri Mita Wulansari

Adit di Gramedia

Keni di Gramedia

Mutia putri Nika Hanidah


Love you all my little readers!  


Jumat, 19 September 2014

KISAH KOTA KITA dalam benak anak-anak



Namanya Rarizqi, umurnya belum genap 6th. Farizqi salah satu pembaca setia buku-buku saya. Ia adalah putra salah satu sahabat saya, mb Sari Rarasati. Mb Sari salah satu orang yang menginspirasi saya untuk mengumpulkan semua coretan-coretan Keni. Ia dengan telaten selalu membuat jurnal harian Farizqi.

Dan saya dibuat takjub saat melihat bagaimana imajinasi Farizqi terhadap ilustrasi yang ada di buku Kisah Kota Kita. 
"Ya ampuun...ini keren sekali," batin saya.
Saya tidak pernah menyangka bahwa cerita-cerita di dalam Kisah kota Kita bisa begitu melekat dan dapat diterjemahkan dengan sedemikian unik dalam benak anak-anak.

Saya hanya bisa berkata, "Terima kasih Rarizqi, dan selamat menjelajahi seluk-beluk Kota Kita!". Juga untuk Mb Sari yang selalu memberi ruang untuk tumbuh kembang kreativitas Farizqi.

Terima kasih karena telah memberikan saya semangat untuk terus menulis dan untuk tetap fokus pada tujuan saya menulis, yaitu menyentuh hati dan imajinasi anak-anak Indonesia.

Toko Merah karya Saya

Toko Merah Karya Farizqi

Pintu Air karya Haidi
Pintu Air karya Farizqi
Jembatan karya Farizqi

Semoga semakin banyak anak Indonesia yang tersentuh, dan terinspirasi oleh kisah-kisah dalam Buku Kisah Kota Kita. 

Doakan saya....

you might also like these stories

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...