HOMESCHOOLER Mom

Foto saya
a mom of homeschool twinnies (boy and girl), an ex architect, a lecturer, a crafter, and a children book's author and illustrator. loves drawing, crafting, illustrating, making pretty things..

Hi there...

Thanks so much for taking time out of your day to stop by my little space! i am happy to share my daily activities (homeschooling, green living, writing, ilustrating & crafting) and hope you enjoy it...

-Dini-

dkwardhani@yahoo.com



Tampilkan postingan dengan label watercolour. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label watercolour. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Januari 2016

Ilustrasi Pilih Sendiri Cerita Favoritmu

Hallo... yuhuuuu...

Saya mau cerita sedikit tentang ilustrasi buku terbaru saya "Pilih Cerita Favoritmu!"
Di buku ini saya berkesempatan mengilustrasi 2 judul yakni Si Buruk Rupa dan Bercak Aneh. Untuk ilustrasi 2 judul yang lain yakni Rumah Boneka dan Tamu Misterius, saya di bantu Lenny Wen.

Untuk ilustrasi Si Buruk Rupa, saya menggunakan sedikit campuran gouache, cat air dan pensil warna untuk memperkuat kesan suram dan galak :D


Sedangkan untuk Bercak Aneh saya menggunakan outline pensil kapur hitam dan cat air. Kedua karakter tokoh dalam buku ini sangat berkesan buat saya. Si Buruk Rupa adalah rumah tua yang galak dan tidak suka diganggu, sedangkan Bercak Aneh adalah semua pondok petani yang gatal-gatal karena jamur pada dindingnya.


Semua cerita ini memiliki 2 alur cerita yang berbeda dan keduanya sangat seru, itulah kenapa disebut sebagai seri pilih sendiri cerita favoritmu. 

kunjungi juga IG dkwardhani dan www.capungmungil.weebly.com ya, see you!



Kamis, 09 Oktober 2014

Toko Merah : Kisah Si Bangunan Kuno

Tiba-tiba saya ingin sekali menulis tentang Toko Merah, yang merupakan salah satu judul pada Kumpulan cerita Kisah Kota Kita. 



Mungkin banyak yang baru tahu jika judul Toko Merah terinspirasi dari nama sebuah toko alat tulis di Jogjakarta milik sahabat saat kuliah. Sangat spesial karena ini merupakan ilustrasi cat air pertama saya yang diterbitkan dalam bentuk buku anak. Senang sekali saat menulis sekaligus mengilustrasikannya. Buat saya cerita yang satu ini sangat istimewa, karena bercerita tentang bangunan kuno di sebuah kawasan Pecinan. 

Saya selalu menikmati keindahan bangunan lama/kolonial maupun bangunan tua bersejarah. Bagi saya, bangunan-bangunan itu memiliki estetika yang tak dimiliki dan juga tak bisa digantikan oleh bangunan masa kini. Namun sayang, nasib bangunan tua di Indonesia tidaklah semanis gula. Terbengkalai, terlupakan, ditinggalkan, bahkan dirobohkan itulah riwayat mereka kini. Selain bicara estetika, tentu juga kita akan bicara mengenai konstruksi dan teknologi. Bagaimana bangunan tua bisa memiliki kenyamanan termal yang baik hingga disebut bangunan indies nan tropis. Sayang seribu sayang, jika bangunan-bangunan itu berakhir hanya dalam kenangan warga kotanya.




Saat saya membaca ulasan buku The Little House, saya merasa tersentil. Mengapa di Indonesia tidak ada buku yang bisa membuat orang (terutamanya anak-anak) berempati terhadap nasib bangunan tua. Buku adalah media yang ampuh untuk menyentuh hati. Saya membayangkan bisa menulis cerita seperti ini. Selain ceritanya yang mengharukan, ilustrasi The Little House sangat serasi dan harmonis dengan ceritanya, klop sudah!

http://blog.preservationnation.org/


Akhirnya saya bulatkan tekad saya untuk menulis buku anak dengan tema besar mengenai tata kota. Walaupun tema tersebut bisa dikatakan tema berat atau idealis untuk anak-anak, tapi saya tetap yakin bahwa tema seberat apapun bisa dikemas menjadi ringan dan menyenangkan. Toko Merah merupakan salah satu judul awal yang saya tulis selain Taman Cahaya. 




Saya menuliskan naskah Toko Merah dan Taman Cahaya pada saat mengikut kelas online Picture Book Writing. kemudian muncul judul Titian Persahabatan, Stasiun Pelangi dan Dermaga Perak yang akhrinya berganti judul menjadi Festival Air. Karena tidak cukup hanya berbekal 5 cerita, bersama mb Watiek Ideo, saya mulai mematangkan ide ini. Berbagai konsep kami coba mulai komik, cergam akhirnya matang dengan kumpulan cerita. Dan selanjutnya muncul lah 10 cerita yang masing-masing mewakili tiap elemen perkotaan. Tambahan judul baru adalah Pasar Pagi, poster Heboh, Kantor Jingga, Pawai Sampah dan Jalur Populer.

No
Sub Judul
Elemen Kota yang ingin diceritakan
1
Taman Cahaya

Pohon dan Taman yang terlantar
2
Titian Persahabatan

Elemen pedestrian way/trotoar
3
Toko Merah

Bangunan kuno/cagar budaya kota 
4
Festival Air

Banjir dan biopori
5
Pasar Pagi

Revitalisasi pasar radisional
6
Poster Heboh

Penertiban reklame
7
Pawai Sampah
Daur ulang sampah

8
Kantor Jingga

Kantor pos dan kawasan pusat kota
9
Stasiun Warna

Sarana transportasi masal dan perawatan utilitas kota
10
Jalur Populer
Kemacetan akibat tidak tertib


Apa sih inti dari cerita Toko Merah? sebetulnya Kisah si Toko Merah merupakan kisah tentang adaptive use dalam konteks pelestarian bangunan bersejarah. Berikut adalah sinopsisnya :

Di sebuah kota kecil, dibangunlah sebuah toko kelontong yang terletak di sudut tikungan. Ia menjual berbagai macam barang juga makanan. Pada kawasan permukiman itu (neighbourhood), ia tampak sangat megah dengan catnya yang berwarna merah. Si Toko pun merasa sedikit sombong karena ia paling menonjol diantara bangunan yang lain. Tahun berganti tahun pemiliknya tak mampu lagi merawatnya, sang pemilik pindah kota untuk tinggal bersama anaknya. Si Toko Merah pun dijual. Lama ia merasa terlantar, kosong. Ia merindukan sapaan si pemilik toko pada para pelanggannya. Suatu hari seorang pemuda berhenti di muka Toko Merah. Lama ia berdiri di sana. Saat melihat Toko Merah ia teringat kembali betapa lezat kue bolu buatan nyonya pemilik Toko Merah.

Sejak naskah itu jadi, saya menyimpan keinginan untuk bisa mengilustrasikannya sendiri. Saya bukan ilustrator yang handal, bahkan ini adalah pertama kali saya mengilustrasikan cerita anak dengan media cat air. Alhamdulillah, selesai juga dan sesuai harapan saya. Meskipun saya masih harus banyak belajar lagi teknik-teknik ilustrasi, ya karena saya juga tidak kuliah di jurusan komunikasi visual :D tapi lumayan lah.




Selain Toko Merah, cerita favorit saya adalah Taman Cahaya. Taman Cahaya akhirnya berhasil diilustrasikan sangat indah oleh Dewi Citra, saya kagum dengan caranya menuangkan cerita itu pada gambar-gambarnya yang luar biasa, lembar demi lembarnya membuat hampir semua pembaca mengagumi cerita itu. Ada efek dramatis, anggun dan melankolis dalam ilustrasi Taman Cahaya. Luar biasa!




Toko Merah, Taman Cahaya dan cerita lain dalam Kisah Kota Kita hanyalah sebagian kecil dari upaya seorang warga kota mengubah keprihatinan menjadi kepedulian. Kepedulian yang saya harapkan tumbuh di hati setiap pembaca cilik yang telah membaca Kisah Kota Kita. Paling tidak saya, dan Mb Watiek tidak ingin berpangku tangan saja. Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka berusaha untuk mengubahnya sendiri. 

Tulisan ini akhirnya saya tutup dengan mengutip endorsment dari Ridwan Kamil "Kota Mencerminkan Siapa Diri Kita".


Salam




Rabu, 27 Agustus 2014

KISAH KOTA KITA by DK Wardhani & Watiek Ideo

Alhamdulillah... benar-benar sebuah mimpi jadi nyata...

** Rabu Seru **
Alhamdulillah, bahagia saya rasakan saat buku ini akhirnya terbit. Berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi kota dan ingin memperkenalkan arsitektur dan tata kota pada anak-anak Indonesia, saya mengajak mb Watiek Ideo berkolaborasi menyusun beberapa cerita yang tertuang dalam buku Kisah Kota Kita.

Pernah kesal dengan reklame yang bertebaran dimana-mana menutupi keindahan kota? Sebal karena berebut jalan dengan kendaraan bermotor? Merasa sedih karena banyak bangunan tua yang dirobohkan hanya untuk menjadi minimarket? Pernah jijik saat masuk pasar tradisional? Atau lebih suka bersms daripada mengirim surat? Itu hanya sebagian dari kisah-kisah seru di buku Kisah Kota Kita. 

Buku ini menceritakan pentingnya taman kota, daur ulang sampah, mengenal tata kota dan cagar budaya, menjaga kebersihan pasar tradisional, dan lain sebagainya. Kepedulian anak-anak sangatlah dibutuhkan demi terciptanya kota bersih, ramah lingkungan, dan nyaman.


Ilustrasi di dalam buku Kisah Kota Kita ini cukup unik karena mengkombinasikan ilustrasi manual dan mix media oleh tangan-tangan berbakat para ilustrator, beberapa diantaranya adalah arsitek-arsitek ahli tata kota. Selain itu, di setiap judul terdapat mini ensiklopedi dan fakta unik tentang kota sehingga dapat menjadi buku pengetahuan yang menyenangkan.

Kisah Kota Kita memiliki harapan yang amat besar, yakni menggugah awareness anak-anak terhadap segala hal yang terjadi di kota, menumbuhkan empati, serta perasaan memiliki, sehingga mereka ikut menjaga dan merawat kota. Jika kita menyentuh hati seseorang saat ia masih kanak-kanak, kepedulian itu akan melekat hingga ia dewasa.

Judul     : Kisah Kota Kita

Penulis   : 'Dini' Dian Kusuma Wardhani & Watiek Ideo

Tebal     : 180 halaman (10 cerita asyik + ensiklopedi + fakta unik)

Penerbit : Penerbit Bip Gramedia

Ilustrator :
Dini' Dian Kusuma Wardhani Hutami Dwijayanti, Tiffa N. Tanuwigena, Dian Yusnita Setiany, Agnes Kartika, Salestinus Sustyo Hendriawan, Diani Apsari, Diah Fitriana Mukadar, Dewi Citra, Haidi Shabrina


Toko Merah karya Saya

Taman Cahaya karya Dewi Citra

Stasiun Pelangi karya Tiffa Nur. Latifa

Festival Air karya Haidi Sabrina

Kantor Jingga karya Dian Yusnita Setiany

Pasar Pagi karya Diani Apsari

Jalur Populer karya Salestinus

Pawai Sampah karya Diah Mukadar

Poster Heboh karya Hutami Dwijayanti

Titian Persahabatan karya Agnes & Dyana

Buku ini juga mendapat kehormatan dari Presiden RI Terpilih 2014, Bapak Ir. H. Joko Widodo, Bapak Anies Baswedan, dan Bapak Ridwan Kamil (Walikota Bandung). Beliau-beliau ikut serta merekomendasikan buku ini sebagai bacaan yang penting untuk anak-anak Indonesia.

Yuk, ciptakan kota ramah anak!
Selamat membaca.

Selasa, 04 Februari 2014

Watercolor Tutorial #2 - Basic Step

Hello Dear Readers,

Today will learn about basic step to paint in watercolor. Water color painting is both enjoyable and a bit frustrating at times. You will have to do a bunch of painting before you feel completely comfortable with the medium.

You can read and learn about #1 tutorial tools and materials here

Lay a sheet of heavy paper out on a table. Draw some very simple design on it with LIGHT pencil marks. 
Use a flat brushes to wash the paper. It is useful to make a wet on wet painting style.
Put a small dab of any color of watercolor onto the white palette plate. Get your brush lightly wet. Drop a couple of drops of water - from your paintbrush - onto the dab of watercolor that you have on your palette plate. 



Dip your brush into the watercolor liquid on your palette, and lift a small amount of color onto your brush.
Let the picture dry.
You can tell when the paper is completely dry because it will no longer feel cool.




Senin, 06 Januari 2014

Watercolor Tutorial #1 - Tools and Materials

Hi There...

Still remember my last post about watercolor experiment? if not you can read it here watercolor-experiment-for-children-book. Many friends asked me to give some tips and tricks using watercolor as illustration or painting. Ok then, I will post several tips in watercolor painting and I will post it in several parts. This is our first part. So keep on following.

"nothing quite compares with the transparancy, luminosity and sheer beauty of well-painted watercolor" (William Newton)

Watercolor is really difficult to learn for some people. As people always says, Practice make perfect ^^. I will write this post (and next posts) based on my own experiences.


To make a beautiful watercolor painting we have understand our tools and materials first.

1. Paints (cat air)
watercolor available in tubes and pans, I prefer to use tubes since it is wetter and easy to mix.

2. Pallets (palet)

Pallets is really useful to mix some colors. I use to mix every colors with yellow ochre to get a nice color scheme.

3. Brushes (kuas)

Yes, brushes definitely is a very important tools that you cant ignore. Never pick a wrong brushes, it will cause failure in panting. A good quality brushes will hold water very well and joy to use.

a. Cotman from Winsor Newton
I pick Cotman form Winsor Newton. It is quite expensive since it cost over IDR 27000-45000 in 1998. But It will give you a very excellent results. 


 b. non branded
synthetic brushes are also enjoy to use and relatively inexpensive. It is only IDR 5000 (in 2013).

c. Flat Brush
I need flat brushes to lay a wash, to wet the paper or to apply sky.

4. Papers (kertas)
watercolor paper is quite different with other papers. It is made in different kind of thicknesses and texture. I use Canson for average usage and Fabriano for advanced usage. I prefer fabriano than canson.

5. Fresh Water (air)
It is important to have two bowls of fresh water. First bowl for washing your brush and second for dilute your paints. Adequate water will determine best result. Remember, always keep your brushes clean.

6. Pencil and eraser (pensil dan penghapus)
I use sketches pencil B or 2B for drawing outline. Keep your drawing light. 


For guiding you to learn more about watercolor i suggest you to read some books about watercolor, one of them is Painting with Watercolours (William Newton)



I think it is enough for today... will post second part soon.
(to be continued)

warm regards'
Dini

you might also like these stories

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...